Mengubur semua hasrat,mengubur semua ingin bagaikan bernafas dalam lumpur. Kerinduan yang tak pantas diyana , kecaman-kecaman penghasut hasrat liar mengoda tak berujung ,hanya pelarian-pelarian kecil tak berarah.Kebahagiaan bercampur dendam, bergelut kekhawatiran , berkecam kecurigaan. Haruskah kebahagiaan tak seutuhnya kebahagiaan saja tanpa embel-embel lain yang menodainya?
Ketika relung mendesah lelah , ketika jiwa ingin lari mengejar liarnya, hati mengiris ,pikiran melayang tak seirama dengan logika, hampa,kosong ,buntu dan berakhir dengan membiarkan waktu saja yang bicara.
Begitu lenanya langkahku menjemput prahara.
Gejolakku menutupi semua akal sehatku. Imajinasi rasaku telah memaksaku dalam ketidakpedulian utuh. Terlena.. aku bahkan tak tahu, apakah aku ini subyek atau cuma obyek baginya. Apakah hanya suatu permainan atau hanya lakon sesaat sebagai pengganti lakon asli atau memang ada gejolak gemes terpendam selama ini. Semua terjadi begitu saja, mungkin pondasi cinta kami pada saat itu sama-sama runtuh sehingga terjadi nafas terlarang itu.

Bagai dibuai angin merindu tanpa kusadari kapal itu akhirnya bersandar di dermaga berkarang tajam… Nekad, ayunan gelombang yang menggoda itu telah memaksa kapal kami bersandar tanpa surat-surat resmi kelengkapannya. Tarikan nafas seirama dengan gejolak nakal, genggaman tangannya seerat kehangatan geloranya waktu itu. Sisi lain membuai kalbu, meniup rasa dan menerbangkanku ke awang-awang. Kenikmatan yang tak pantas terjadi, akhirnya….
Hampa..... hampa.... hampa
Hampa..... hampa..... hampa ... hampa
Hidupku tak bergairah lagi menyambut pagi
Hanya letih dan letih menanti hari berganti
Terisak tangis tak terisakkan lagi
Tetesan air mata dihati mengalir bagai dam nestapa
Penat... penat... penat.... penaaaaat
Hanya diam dan diam tak bisa bicara
Sedih .... sedih.... sedih...
Tak berguna dirundung dosa
Hambar.. hambar... hambar
Sudahlah diam mungkin itu lebih baik...
gak tahu lagi ....
Rinduku senandung sendang kerontang
Kasihku tercampak bagai sampah.
Sayangku bagai racun yang mematikanku perlahan-lahan
Sudah....
Sudahlah akhiri semua dengan senyuman
Buang segala nestapa sendumu
Biar waktu yang bicara..
Ketika galih merintih
Syahdu rindu meradang
Berangan walau tertatih
Bersenandung kabut bandang
Terpuruk terkapar di padang gersang..
Sendiri meniti kembali, puing-puing kehancuran..
Menangis menetes darah mengharap mimpi...
Menanti keikhlasannya kembali...
Biarkan walau tersakiti
Biarkan walau tercaci maki
Biarkan walau tercabik-cabik
Biarkan semuanya kembali kepada Sang Kholik....
Tapi sudahlah ibarat nasi telah menjadi bubur. Setiap orang punya sisi gelap dalam kehidupannya masing-masing, begitu pun aku dengan segala kekurangan dan kekhilafanku. Terkadang terpikir olehku opsi seandainya aku harus memilih meninggalkan semua itu, dan kembali di kehidupanku yang nyata. Tapi tak terperikan beraaaaatnya, dan ternyata tidak sesederhana emosiku. Jika saja aku bisa terbang bebas menentukan langkah hidupku sendiri, maka akan ku bawa semua kesalahanku tunai.
DI KALA SENJA LEMBAYUNG TIBA,
SANG UFUK TEMARAM MERAH MERONA
MELAMBAIKAN BAYANGAN KEMUDIAN MENGHILANG
BERGANTI DENGAN SANG REMBULAN MALAM JINGGA
Gita Sunyi
Ungkapan rasaku mulai menetes satu-satu
Ke relung jiwaku yang paling dalam… sunyi
Tiap tetesnya menjelma menjadi jeritan tanpa suara
Hari ini ku mulai mengalirkan segala gundah
Menjadi rangkaian kata yang ku titip makna.
ku tata sebisaku menjadi rangkaian kalimat
Februari, 2010





